Entri Populer

Kamis, 22 Desember 2011

studi kasus pre eklamsi


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pembangunan nasional adalah pembangunan yang berwawasan kesehatan. Visi Indonesia Sehat 2010, merupakan gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan yakni masyarakat bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia (Depkes RI, 1999)
Dalam sistem kesehatan nasional dinyatakan bahwa tujuan pembangunan kesehatan nasional adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi semua penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional. Termasuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat untuk pembangunan manusia yang berkualitas.
Tujuan utama setiap kehamilan agar berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna dan ibu yang sehat. Tetapi dalam kenyataan hal ini selalu berjalan dengan tidak lancar, seringkali proses pengembangan janin intrauterine mendapat gangguan, yang mana gangguan tersebut dapat terjadi pada setiap tahap, tergantung pada tahap dimana gangguan itu terjadi, maka hasil kehamilannya dapat abortus, prematur, atau cacat bawaan.
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan tidak semata-mata berada di tangan pemerintah melainkan tanggung jawab bersama dari setiap individu dan masyarakat. Karena apapun peran yang dimainkan oleh pemerintah, tanpa kesadaran individu dan masyarakat untuk secara mandiri menjaga kesehatan mereka, hanya sedikit yang akan dicapai.
Salah satu fenomena utama yang mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan pembangunan kesehatan adalah masih rendahnya upaya dan derajat kesehatan yang ditandai dengan angka kematian ibu yang masih tinggi. Dewasa ini derajat kesehatan ibu masih rawan ini ditandai dengan tingginya dan lambatnya penurunan angka kematian ibu yaitu sebesar 337/100.000 kelahiran hidup (SKRT, 1991) menjadi 421/100.000 kelahiran hidup (SKRT, 1992). Berdasarkan data internet bahwa tingginya angka kematian ibu sesuai data survey demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2003 yakni 307/100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih lebih tinggi 3 – 6 kali dibanding di negara-negara Asean lainnya atau 80 kali lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju (http//www.Depkes.90id/index.php?option:news&task=viewarticle&sid=445 itemid = 2 diakses 25 September 2005, pukul 20.00 Wita)
Di Indonesia ada 3 penyebab kematian ibu yaitu perdarahan sekitar antara 40% sampai 60% dari total angka kematian ibu hamil pre eklampsia/eklampsia 20 – 30% dan infeksi jalan lahir 20 – 30% (http.//orienta.co.id/kesehatan/beritasehat/ detail.php?id=2125) diakses 25 September pukul 19.55 Wita).
Diharapkan angka kematian ibu dapat diturunkan dari 307/100.000 kelahiran hidup menjadi 150/100.000 kelahiran hidup di tahun 2010 (Depkes RI. 2004)
Frekwensi kejadian preeklampsia dilaporkan sekitar 3 – 10% dari kehamilan (Mochtar Rustam, 1998 hal. 201)
Di Sulawesi Selatan dilaporkan jumlah kematian ibu maternal di tahun 2003 September 184 orang diantaranya ibu hamil 53 orang, ibu bersalin 75 orang dan ibu nifas 56 orang (Dinkes Propinsi Sulawesi Selatan, 2004 Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, 2003).
Sesuai data yang kami peroleh di RSIA Sitti Fatima Makassar berdasarkan data periode 1 Januari – 31 Oktober 2004 terdapat 49 ibu hamil yang didiagnosis pre eklampsia dari 3.210 ibu hamil yang memeriksakan diri diantaranya 29 ibu hamil yang didiagnosis bereklampsia ringan dan 20 ibu hamil yang didiagnosis pre eklampsia berat sedangkan yang didiagnosis eklampsia terdapat 4 ibu hamil.
Upaya pemerintah dalam mempercepat penurunan angka kematian ibu adalah pergerakan Tim Dati II, pengembangan daerah binaan intensif Dati II, penerapan penjagaan mutu pelayanan KIA, peningkatan KIA yang terkait langsung dengan upaya pencegahan kesakitan dan kematian ibu serta upaya promotif untuk berbagai kelompok sasaran dan pemantapan peran serta masyarakat.
Gambaran di atas menunjukkan bahwa penyebab langsung kematian ibu dapat dideteksi dan dicegah pada masa kehamilan yakni dengan pelaksanaan asuhan kehamilan atau biasanya dikenal Antenatal Care.
Pembahasan kasus pre eklampsia ringan pada karya tulis ini dilatar belakangi pada kejadian pre eklampsia ringan sering tidak diketahui atau tidak diperhatikan oleh wanita yang bersangkutan sehingga tanpa disadari dalam waktu singkat dapat timbul pre eklampsia berat bahkan eklampsia. Oleh sebab itu penulis terdorong untuk menerapkan prinsip-prinsip Manajemen Kebidanan khususnya pada preeklampsia ringan yang diuraikan 7 step di RSIA Sitti Fatima Makassar.
Dengan penerapan Manajemen Asuhan Kebidanan yang adekuat teratur diharapkan dapat mendeteksi lebih dini keadaan-keadaan yang tergolong resiko kehamilan atau persalinan baik terhadap ibu maupun janin sehingga setiap kehamilan yang diinginkan pada akhirnya lahir seorang bayi yang sehat tanpa mengganggu kesehatan ibunya.
Berdasarkan masalah tersebut, maka penulis tertarik untuk membahas kasus yang tertuang dalam kasus yang berjudul Manajemen Asuhan Kebidanan dengan Kasus Pre Eklampsia Ringan di RSIA Sitti Fatima Makassar.
B.     Ruang Lingkup Pembahasan ­
Adapun yang menjadi ruang lingkup pembahasan penulisan makalah ini adalah Manajemen Kebidanan Ante Natal Care pada Ny. N dengan kasus preklampsia ringan di RSIA Sitti Fatima Makassar yang dilakukan selama tujuh hari yaitu mulai tanggal 22 – 9 – 2002 sampai tanggal 29 – 9 – 2002.
C.    Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum
Mampu melaksanakan Manajemen Asuhan Kebidanan pada kasus preeklampsia ringan sesuai wewenang bidan.
2.      Tujuan Khusus :
  • Dapat melaksanakan pengkajian pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
  • Dapat melaksanakan identifikasi diagnosa/masalah pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
  • Dapat melaksanakan identifikasi diagnosa/masalah potensial pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
  • Dapat melaksanakan identifikasi perlunya tindakan segera, konsultasi dan kolaborasi pada Ny. N dengan kasus pre eklampsia ringan.
  • Dapat menyusun rencana tindakan pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
  • Dapat melaksanakan implementasi secara langsung rencana tindakan asuhan pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
  • Melaksanakan evaluasi efektivitas asuhan yang akan dicapai pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
  • Membuat dokumentasi pada Ny. N kehamilan 38 – 40 mg dengan kasus preeklampsia ringan.
D.    Manfaat Penulisan
  1. Sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan Program Diploma Tiga Kebidanan pada Akademi Kebidanan Depkes Makassar.
  2. Bagi institusi merupakan masukan tentang penerapan manajemen kebidanan dengan kasus preeklampsia ringan.
  3. Dapat meningkatkan kualitas pelayanan klien di RSIA Sitti Fatima Makassar dalam penerapan manajemen kebidanan dengan kasus preeklampsia ringan.
  4. Meningkatkan keterampilan penulis dalam melakukan manajemen kebidanan pada kasus preeklampsia ringan.
E.     Metode Penulisan
1.      Studi Kepustakaan
Dalam metode ini penulis membaca dan mempelajari buku-buku, literatur-literatur yang berkaitan dengan preeklampsia.
2.      Studi Kasus
Melalui asuhan kebidanan pada ibu yang berkunjung di RSIA Siti Fatima yaitu terdiri dari tujuh langkah sebagai berikut : kajian dan analisa data, diagnosa masalah aktual, diagnosa masalah potensial, identifikasi tindakan segera, rencana tindakan, implementasi dan evaluasi dari asuhan yang diberikan terhadap ibu. Untuk menghimpun data/informasi dalam pengkajian digunakan cara : pemeriksaan fisik secara sistematis pada ibu mulai dari inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi, dan pemeriksaan laboratorium.
3.      Studi Dokumentasi
Dalam manajemen kebidanan dengan kasus pre eklampsia ringan, penulis membaca dan mempelajari status yang berhubungan dengan keadaan klien baik bersumber dari bidan, dokter, maupun pemeriksaan penunjang lainnya.
4.      Diskusi
Metode ini dilakukan dengan cara tanya jawab dan diskusi dengan klien, bidan, dokter asisten Obgyn, pembimbing karya tulis dan rekan-rekan seprofesi lainnya.
F.     Sistimatika Penulisan
Sistimatika penulisan dari karya tulis ini adalah :
BAB I           PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
  2. Ruang Lingkup Pembahasan
  3. Tujuan Penulisan
    1. Tujuan Umum
    2. Tujuan Khusus
    3. Manfaat Penulisan
    4. Metode Penulisan
    5. Sistematika Penulisan
BAB II          TINJAUAN PUSTAKA
  1. Dasar Teori Antenatal Care
  2. Pengertian Antenatal Care
  3. Tujuan Antenatal Care
  4. Pemeriksaan Ibu Hamil
    1. Anamnesis
    2. Pemeriksaan
    3. Diagnosis
    4. Pemeriksaan kehamilan ulangan
    5. Penanganan Kehamilan
      1. Dasar Teori Pre Eklampsia
        1. Pengertian Pre Eklampsia
        2. Etiologi Pre Eklampsia
        3. Patofisiologi Pre Eklampsia
        4. Gambaran Klinik Pre Eklampsia
        5. Diagnosis Pre Eklampsia
        6. Pencegahan Pre Eklampsia
        7. Penanganan Pre Eklampsia Ringan
    6. Dasar Teori Manajemen Kebidanan
      1. Pengertian Proses Manajemen Kebidanan
      2. Proses Manajemen Kebidanan
        1. Step I          Pengumpulan Data
        2. Step II         Identifikasi Diagnosa/Masalah Aktual
        3. Step III       Identifikasi Diagnosa/Masalah Potensial
        4. Step IV       Menilai perlunya tindakan segera, konsultasi dan kolaborasi
        5. Step V         Pengembangan rencana asuhan
        6. Step VI       Mengimplementasikan langsung rencana asuhan
        7. Step VII      Evaluasi efektivitas asuhan kebidanan
      3. Jenis Pendokumentasian Manajemen Kebidanan
BAB III        STUDI KASUS
BAB IV        PEMBAHASAN
BAB V          KESIMPULAN DAN SARAN
LAMPIRAN DAN DAFTAR PUSTAKA

Pre-Eklamsi


 PRE-EKLAMSI

1.1 PENDAHULUAN

Dalam pelayanan obstetri, selain Angka Kematian Materal (AKM) terdapat Angka Kematian Perinatal (AKP) yang dapat digunakan sebagai parameter keberhasilan pelayanan. Namun, keberhasilan menurunkan AKM di negara-negara maju saat ini menganggap AKP merupakan parameter yang lebih baik dan lebih peka untuk menilai kualitas pelayanan kebidanan. Hal ini mengingat kesehatan dan keselamatan janin dalam rahim sangat tergantung pada keadaan serta kesempurnaan bekerjanya sistem dalam tubuh ibu, yang mempunyai fungsi untuk menumbuhkan hasil konsepsi dari mudigah menjadi janin cukup bulan. Salah satu penyebab kematian perinatal adalah preeklamsia (PE) dan eklamsia (E).
kematian ibu (AKI) dan anak1,6.
Perlu ditekankan bahwa sindroma preeklampsia ringan dengan hipertensi, edema, dan proteinuri sering tidak diketahui atau tidak diperhatikan oleh wanita yang bersangkutan. Tanpa disadari, dalam waktu singkat dapat timbul preeklampsia berat, bahkan eklampsia. Dengan pengetahuan ini, menjadi jelas bahwa pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara rutin mencari tanda-tanda preeklampsia, sangat penting dalam usaha pencegahan preeklampsia berat dan eklampsia, di samping pengendalian terhadap faktor-faktor predisposisi yang lain1. 

1.2 PENGERTIAN PRE-EKLAMSI

PRE - E adalah penyakit pada wanita hamil yang secara langsung disebabkan oleh kehamilan. Definisi preeklampsia adalah hipertensi disertai proteinuri dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu bila terjadi penyakit trofoblastik. Eklampsia adalah timbulnya kejang pada penderita preeklampsia yang disusul dengan koma. Kejang di sini bukan akibat kelainan neurologis2,3,4. PE - E hampir secara ekslusif merupakan penyakit pada nullipara. Biasanya terdapat pada wanita masa subur dengan umur ekstrem, yaitu pada remaja belasan tahun atau pada wanita yang berumur lebih dari 35 tahun. Pada multipara, penyakit ini biasanya dijumpai pada keadaan-keadaan berikut2:
  1. Kehamilan multifetal dan hidrops fetalis
  2. Penyakit vaskuler, termasuk hipertensi essensial kronis dan diabetes mellitus
  3. Penyakit ginjal.
1.3 Etiologi
 
Sampai saat ini, etiologi pasti dari preeklampsi/eklampsi belum diketahui. Ada beberapa teori mencoba menjelaskan perkiraan etiologi dari kelainan tersebut di atas, sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai the diseases of theory. Adapun teori-teori tersebut antara lain:
  1. Peran Prostasiklin dan Tromboksan5
Pada PE - E didapatkan kerusakan pada endotel vaskuler, sehingga terjadi penurunan produksi prostasiklin (PGI 2) yang pada kehamilan normal meningkat, aktivasi penggumpalan dan
fibrinolisis, yang kemudian akan diganti dengan trombin dan plasmin. Trombin akan mengkonsumsi antitrombin III sehingga terjadi deposit fibrin. Aktivasi trombosit menyebabkan pelepasan tromboksan (TxA2) dan serotonin, sehingga terjadi vasospasme dan kerusakan endotel.
  1. Peran Faktor Imuunologis5
Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbul lagi pada kehamilan berikutnya. Hal ini dapat diterangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada kehamilan berikutnya.
Fierlie F.M. (1992) mendapatkan beberapa data yang mendukung adanya sistem imun pada penderita PE - E:
    1. Beberapa wanita dengan PE - E mempunyai kompleks imun dalam serum.
    2. Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi sistem komplemen pada PE - E diikuti dengan proteinuri.
Stirat (1986) menyimpulkan, meskipun ada beberapa pendapat menyebutkan bahwa sistem imun humeral dan aktivasi komplemen terjadi pada PE - E, tetapi tidak ada bukti bahwa sistem imunologi bisa menyebabkan PE - E.
  1. Peran Faktor Genetik/familial4,5
Beberapa bukti yang menunjukkan peran faktor genetik pada kejadian PE - E antara lain:
    1. Preeklampsia hanya terjadi pada manusia.
    2. Terdapatnya kecendrungan meningkatnya frekuensi PE - E pada anak-anak dari ibu yang menderita PE - E.
    3. Kecenderungan meningkatnya frekuensi PE - E pada anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat PE - E dan bukan pada ipar mereka.
    4. Peran Renin-Angiotensin-Aldosteron System (RAAS)
Kriteria Diagnosa
Preeklamsia Berat (PEB)
Diagnosa PEB ditegakkan apabila pada kehamilan > 20 minggu didapatkan satu/lebih gejala/tanda di bawah ini:
  1. Tekanan darah > 160/110. Syarat: (a) Bumil Ibbu hamil) dalam keadaan relaksasi (pengukuran T minimal setelah istirahat 10 menit); dan (b) Bumil tidak dalam keadaan his.
  2. Proteinuria > 5 gr/24 jam atau 4+ pada pemeriksaan secara kuantitatif.
  3. Oliguria, produksi urine <>
  4. Gangguan visus dan serebral.
  5. Nyeri epigastrum/hipokondrium kanan.
  6. Edema paru dan sianosis.
  7. Gangguan pertumbuhan janin intrauteri.
  8. Adanya Hellp Syndrome (Hemolysis, Elevated liver enzyme, Low Platelet count).
Metode
Penelitian ini merupakan penelitian retrospectif pada ibu hamil dengan komplikasi preeklamsi-eklamsi yang dirawat dan melahirkan di RSU Tarakan. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh penderita preeklamsi-eklamsi yang memenuhi syarat penelitian, dirawat, dan melahirkan antara 1 Januari 1996 sampai 31 Desember 1998 di RSU Tarakan.
Kriteria inklusi: (a) Ibu hamil dengan komplikasi preeklampsia dan eklampsia; (b) Melahirkan janin tunggal, letak kepala, baik hidup maupun mati, dengan proteinuria, umur kehamilan sama dengan atau lebih tua dari 28 minggu. Sedangkan kriteria ekslusi: (a) Kasus ibu hamil dengan preeklamsia-eklamsia tidak melahirkan di RSU Tarakan; (b) Kasus ibu hamil dengan preeklamsia-eklamsia dengan data tidak lengkap sesuai karakteristik penderita; (c) Ibu dengan penyakit Diabetes mellitus, jantung, ginjal, hati, anemia, kelainan trombosit (trombositopeni idiopatik purpura), SLE, infeksi, hipertensi sebelumnya, dan kelainan neurologi; seerta (d) Bayi yang lahir dengan kelainan kongenital mayor.
Penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan catatan medik rawat inap penderita PE - E dengan umur kehamilan ≥ 28 minggu, yang dirawat dan melahirkan di RSU Tarakan dari 1 Januari 1996 sampai 31 Desember 1998.
Penderita PE - E yang memenuhi syarat penelitian dikelompokkan berdasarkan variabel-variabel yang diamati, yaitu usia ibu hamil, pendidikan, frekuensi memeriksakan kehamilannya, usia kehamilan saat diagnosis ditegakkan, status kehamilan, tekanan darah sistolik dan diastolik, cara persalinan, ada tidaknya kematian perinatal, serta komplikasi yang ditemukan. Data yang didapat kemudian ditabulasikan. Dari data-data tersebut, dibuat kesimpulan mengenai karakteristik penderita PE - E di RSU Tarakan, KalTim.
Batasan operasional yang dipergunakan dalam penelitian ini:
Preeklamsia adalah hipertensi akibat kehamilan dengan proteinuria dan atau edema yang terjadi pada kehamiian setelah umur 20 minggu, bersalin, atau nifas, menyertai preeklamsia dan bukan karena kelainan neurologik.
Hipertensi adalah bila didapatkan tekanan darah > 140/90 mmHg atau kenaikan tekanan diastolik >15 mmHg dan atau sistolik > 30 mmHg dalam kehamilan.
Proteinuri adalah adanya protein dalam urin dengan pemeriksaan secara kualitatif maupun kuantitatif.
Edema adalah adanya timbunan cairan bebas secara menyeluruh. Dikatakan piting edema jika terdapat edema pada tungkai bawah dan dikatakan generalisata jika didapat kenaikan BB ibu melebihi 0,5 kg/minggu, 2 kg/bln, atau 13 kg selama kehamilan.
Umur kehamilan dihitung dalam minggu lengkap, mulai hari pertama haid terakhir.
Data laboratorium dan tekanan darah yang dinilai dalam penelitian adalah data pertama pada saat penderita dirawat di RSU Tarakan sebelum mendapat pengobatan.
Kematian perinatal adalah jumlah bayi mati ditambah kematian neonatal dini. Bayi lahir mati (BLM) adalah bayi yang lahir dalam keadaan meninggal yang telah mencapai umur kehamilan 28 minggu atau lebih, atau BB lahir 1000 gram atau lebih.
Kematian neonatal dini (KND) adalah kematian bayi yang lahir hidup yang kemudian meninggal dalam 7 hari pertama setelah persalinan. Karena tidak dilakukan pengamatan lanjut selama 7 hari maka penelitian terbatas sampai pada bayi pulang dan RS.
.
Pembahasan
Seperti telah diketahui ahwa preeklampsia-eklampsia merupakan salah satu penyebab kematian ibu terbanyak di negara-negara berkembang, di samping perdarahan dan infeksi. Menurut Wibowo. H, (1993) RSUP Karyadi mendapatkan angka kejadian PE - E sebesar 2,85% sedangkan Soejoenoes A. (1983) dari 12 Rumah Sakit rujukan di Indonesia mendapatkan angka 5,2%. Dalam penelitian ini, didapatkan angka kejadian sebesar 3,26% dari 3370 persalinan.
Distribusi kejadian preeklampsi-eklampsi berdasarkan umur, menurut beberapa referensi banyak ditemukan pada kelompok usia ibu yang ekstrim, yaitu kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun. Dalam penelitian ini, kejadian terbanyak didapatkan pada kelompok usia 20--35 tahun (76,27%). Hasil ini sesuai dengan apa yang didapatkan oleh Hadi S. (1997) di RSHS Bandung dan Siregar MF. (1997) di RS Pirngadi. Sedangkan Wibowo H. (1993) mendapatkan kejadian preeklampsia-eklampsi terbanyak pada kelompok umur di atas 35 tahun (58,3%), di mana status multigravida lebih dominan pada penelitian ini (54,24%). Dalam penelitian ini, kejadian Dr. Pirngadi Medan mendapatkan AKP sebesar 9,55 permil.
Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa profil penderita preeklampsia-eklampsia di RSU Tarakan Kalimantan Timur adalah sebagai berikut:
  1. Angka kejadian preeklampsia-eklampsia di RSU Tarakan 3,26%.
  2. Kelompok usia terbanyak penderita adalah antara 20--35 tahun.
  3. Status pendidikan penderita dari SD s.d. PT 79,7%
  4. Tingkat kunjungan ANC penderita ≥ 4 kali selama hamil 54,8%.
  5. Usia kehamilan penderita saat diagnosis ditegakkan 86,44% pada usia 37--42 minggu.
  6. Status gravida penderita terbanyak adalah multigravida, yaitu 54,24%.
  7. Tekanan darah penderita terbanyak sistolik > 160 mmHg (66,1%), diastolik ≤ 110 mmHg (57,63%).
  8. Cara persalinan terbanyak yang dilakukan adalah pervaginam ()
  9. Komplikasi terbanyak yang didapatkan: BBLR (), IUFD (), asfiksia neonatorum (), perdarahan pasca persalinan (), kematian neonatal dini (), dan gangguan visus, serta kematian ibu dan solutio plasenta masing-masing ().
  10. Angka kematian perinatal sebesar 2,67.
Daftar Pustaka
  1. Reeder, Mastroianni, Martin, Fitzpatrik. Maternity Nursing. 13rd edition. Philadelpia : J.B. Lippincott Company, 1976; 23:463-472.
  2. Pritchard JA.MD, MacDonald PC.MD, Gant NF MD. William Obstetrics. Penerjemah: Hariadi R. Prof. Dr, dkk. Surabaya: Airlangga University Press, 1997 ; 27 : 609-646.
  3. Wiknjosastro Hanifa, DSOG., Prof. dr., dkk. Ilmu Kebidanan. Ed. Ketiga. Cetakan Keempat. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohaijo, 1997; 24 : 281-301.
  4. Ansar Dikman M., Simanjuntak P., Handaya, Sjahid Sofyan. Panduan Pengelolaan Hipertensi dalam Kehamilan di Indonesia. Satgas Gestosis POGI, Ujung Pandang, 1985 ; C : 12-20.
  5. Wibisono Bambang dr. Kematian Perinatal pada Preeklampsia - Eklampsia. FK. Undip Semarang, 1997:6-12.
  6. Manuaba Gde 1. B., Prof. dr. Penuntun Diskusi Obstetri dan Ginekologi untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakarta, EGC, 1995 : 25-30.
  7. Briggs G. Gerald B. Pharm, Freeman K. Roger M.D, Yafie J. Sumner M.D, Drugs in Pregnancy and Lactation. 4th Ed. Maryland: Williams & Wilkins, 1994 : 66a.