Entri Populer
-
KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan rahmat, karunia serta ridha-N...
-
KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan rahmat, karunia serta ridha-N...
-
PENDARAHAN DI LUAR HAID KARENA POLIP LAPORAN PENDAHULUAN PENDARAHAN di LUAR KARENA POLIP HIPERMENOROE PENGERTIAN: Pendaraha...
-
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM DI RUANG MASTUPA KLINIK UMUM BAITURRAHMAN GARUT A. Pengkajian ...
-
“STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN” STANDAR 20 : PERSALINAN DENGAN MENGGUNAKAN VAKUM EKSTRAKTOR · Tujuan : Untuk memperce...
-
STUDY KASUS ANC PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan nasional adalah pembangunan yang berwawasan kesehatan. Visi Indonesi...
-
Penanganan Preeklampsia Berat dan Eklampsia ABSTRAK Preeklampsia berat (PEB) dan eklampsia masih merupakan salah satu penyebab u...
-
BAB III ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGIS PADA BAYI BARU LAHIR DENGAN ASFIKSIA RINGAN TERHADAP NY. NONI DI BPS NYI AYU LABUHAN MARINGGAI LAMP...
-
Batasan IUFD Kematian janin dalam kandungan disebut Intra Uterin Fetal Death (IUFD), yakni kematian yang terjadi saat usia kehamilan l...
-
BAB III ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGIS PADA IBU HAMIL DENGAN ANEMIA RINGAN TERHADAP NY. SUPARMI DI BPS NURLELAWATI DESA RENO BASUKI KEC.RUM...
Kamis, 22 Desember 2011
score nyeri
Pengukuran Nyeri (Score Nyeri)
Terdapat 5 jenis pengukuran yang sering digunakan:
1. Verbal Rating Score (VRS)
2. Visual Analog Score (VAS)
3. Numerical Rating Score (NRS)
4. Faces Pain Score
5. McGill Pain Questionare
Verbal Rating Score (VRS)
• menggunakan kata sifat untuk menggambarkan level intensitas nyeri yang berbeda, range dari “no pain” sampai “nyeri hebat” (extreme pain).
• alat pemeriksaan yang efektif untuk memeriksa intensitas nyeri.
• diskore dengan memberikan angka pada setiap kata sifat sesuai dengan tingkat intensitas nyerinya.
• contoh: dengan menggunakan skala 5-point yaitu none (tidak ada nyeri) dengan skore “0”, mild (kurang nyeri) dengan skore “1”, moderate (nyeri yang sedang) dengan skore “2”, severe (nyeri keras) dengan skor “3”, very severe (nyeri yang sangat keras) dengan skore “4”. Angka tersebut berkaitan dengan kata sifat dalam VRS, kemudian digunakan untuk memberikan skore untuk intensitas nyeri pasien.
• keterbatasan: adanya ketidakmampuan pasien untuk menghubungkan kata sifat yang cocok untuk level intensitas nyerinya, dan ketidakmampuan pasien yang buta huruf untuk memahami kata sifat yang digunakan.
Visual Analog Score (VAS)
• memeriksa intensitas nyeri dan secara khusus meliputi 10-15 cm garis, dengan setiap ujungnya ditandai dengan level intensitas nyeri (ujung kiri diberi tanda “no pain” dan ujung kanan diberi tanda “bad pain” (nyeri hebat).
Skala 1: tidak ada nyeri
Skala 2-4: nyeri ringan, dimana klien belum mengeluh nyeri, atau masih dapat ditolerir karena masih dibawah ambang rangsang.
Skala 5-6: nyeri sedang, dimana klien mulai merintih dan mengeluh, ada yang sambil menekan pada bagian yang nyeri.
Skala 7-9: termasuk nyeri berat, klien mungkin mengeluh sakit sekali dank lien tidak mampu melakukan kegiatan biasa
Skala 10: termasuk nyeri yang sangat, pada tingkat ini klien tidak dapat lagi mengenal dirinya.
• pasien diminta untuk menandai disepanjang garis tersebut sesuai dengan level intensitas nyeri yang dirasakan pasien. Kemudian jaraknya diukur dari batas kiri sampai pada tanda yang diberi oleh pasien (ukuran mm), dan itulah skorenya yang menunjukkan level intensitas nyeri.
• lebih sensitif terhadap intensitas nyeri daripada pengukuran lainnya seperti VRS skala 5-point karena responnya yang lebih terbatas.
• keterbatasan: pasien khususnya orang tua akan mengalami kesulitan merespon grafik VAS daripada skala verbal nyeri (VRS).
Numerical Rating Score (NRS)
• menilai rasa nyerinya sesuai dengan level intensitas nyerinya pada skala numeral dari 0 – 10 atau 0 – 100.
• angka 0 berarti “no pain” dan 10 atau 100 berarti “severe pain” (nyeri hebat).
Faces Pain Score
• terdiri dari 6 gambar skala wajah yang bertingkat dari wajah yang tersenyum untuk “no pain” sampai wajah yang berlinang air mata dan skala ini digunakan untuk anak-anak saja.
Nilai 0; nyeri tidak dirasakan oleh anak
Nilai 1: nyeri dirasakan sedikit saja
Nilai 2: nyeri agak dirasakan oleh anak
Nilai 3: nyeri yang dirasakan anak lebih banyak
Nilai 4: nyeri yang dirasakan anak secara keseluruhan
Nilai 5; nyeri sekali dan anak menjadi menangis
• Kelebihan dari skala wajah ini yaitu anak dapat menunjukkan sendiri rasa nyeri yang
baru dialaminya sesuai dengan gambar yang telah ada dan skala wajah ini baik digunakan pada anak usia prasekolah.
0 1 2 3 4 5
McGill Pain Questionare
• menentukan mengalami rasa sakit subyektif menggunakan indra, evaluatif kata deskriptor dan afektif.
• ada tiga langkah utama: nyeri rating indeks, didasarkan pada dua jenis nilai numerik yang dapat diberikan untuk setiap deskripsi kata, jumlah kata-kata yang dipilih, intensitas nyeri ini didasarkan pada skala intensitas 1-5.
• berisi 11 pertanyaan yang mengacu pada dimensi sensoris dari pengalaman rasa sakit dan empat terkait dengan dimensi afektif.
• Deskriptor Setiap diranking pada titik skala intensitas empat (0 = none, 1 = ringan, 2 = sedang, 3 = berat). Peringkat indeks dari rasa sakit MPQ standar juga disertakan serta skala analog visual.
Penatalaksanaan Nyeri WHO (3 step ladder)
Tangga analgesik WHO untuk manajemen nyeri ini adalah pedoman manajemen rasa sakit yang disebut WHO Tangga:
• Langkah 1
Nyeri ringan - Parasetamol, OAINS (dan ajuvan jika diperlukan). Ajuvan termasuk: jika nyeri saraf: TCAs / anti convulsants, Steroid. Menghambat kerja enzim cyclooksigenase sbg tidak terbentuk prostaglandin.
• Langkah 2
ATAS MODERAT nyeri ringan. Mild bertindak opoids + Langkah 1 Non-opoids (dan ajuvan jika diperlukan). Ringan bertindak opoids: Codine, Dihydrocodiene, Dekstropropoksifena. Kerja pd receptor opoid. Efek: depresi pd pusat napas.
• Langkah 3
ATAS BERAT PAIN MOOERATE Kuat opoids + Langkah 1 non-opoids (dan ajuvan jika diperlukan). Kuat opoids: morfin, dimorphine, fentanil, hydromorphine. Kerja pd saraf tepi.
standar pelayanan bidan 20 vacum ekstraktor
“STANDAR
PELAYANAN KEBIDANAN”
STANDAR 20 : PERSALINAN DENGAN MENGGUNAKAN VAKUM
EKSTRAKTOR
·
Tujuan :
Untuk mempercepat persalinan pada
keadaan tertentu dengan menggunakan vakum ekstraktor.
·
Pernyataan standar :
Bidan mengenali kapan diperlukan
ekstrasi vakum, melakukanya secara benar dalam memberikan pertolongan
persalinan dengan memastikan keamananya bagi ibu dan janin atau bayinya.
·
Prasyarat:
1. Kebijakan yang di tentukan untuk indikasi
penggunaan vakum ekstraktor oleh bidan.
2. Bidan dipanggil jika ibu sudah mulai mulas /
ketuban pecah.
3. Bidan terlatih dan terampil dalam pertolongan
persalinan dengan menggunakan ekstrasi vakum.
4. Tersedianya alat untuk pertolongan persalinan DTT
termasuk beberapa sarung tangan DTT / steril.
5. Tersedianya alat / perlengkapan yang diperlukan,
seperti sabun, air bersih, handuk bersih.
6. Vakum
ekstraktor dalam keadaan bersih dan berfungsi dengan baik, mangkuk dan tabung yang akan masuk kedalam vagina harus
steril.
7. Peralatan resusitasi bayi baru lahir harus
tersedia dan dalam keadaan baik
8. Adanya sarana pencatatan, yaitu partograf dan
catatan persalinan / kartu ibu.
9. Ibu, suami dan keluarga diberi tahu tindakan yang
akan dilakukan (informed consent atau persetujuan tindakan medik)
·
Proses:
Semua pelaksana pelayanan trampil dalam melakukan
prosedur iniBidan harus :
1.
Pastikan bahwa
ekstraksi vakum memang perlu dilakukan, sesuai dengan protokol yang ditentukan (perlu ada indikasi yang jelas untuk pemakaian vakum
ekstraktor penelitian menunjukkan bahwa
risiko ekstraksi vakum lebih kecil dari pada penggunaan forcep bila tepat
penggunaanya.
v Indikasi penggunaan Vakum Ekstraktor
a. Bila
ada gejala / tanda gawat janin dan pembukaan servik lengkap, kepala sudah di dasar panggul
b. Bila
tidak mungkin merujuk dan adanya gejala / tanda persalinan lama, sementara kepala bayi sudah 2/5 di dalam panggul
c. Bila ada gawat ibu (misalnya pre eklampsi berat,
persalinan kala II lama), terpenuhinya persyaratan penggunaan vakum
ekstraktor dan tidak mungkin dirujuk
d. Bila kala II lama dan janin baru meninggal (tidak
mungkin di lakukan bila janin sudah mengalami maserasi)
v Operator haruslah terampil, kompeten dan
terlatih dalam prosedur ini
1) Siapkan
semua peralatan dan hubungkan satu dengan yang lain pastikan bahwa tabung vakum terhubung dengan baik dan katup
pengaman berfungsi dengan baik (sebaiknya mangkok penyedot diletakkan di tangan
operator dan mulai menghisap).
2) Cuci
tangan dengan sabun dan air mengalir dan keringkan dengan handuk bersih.
3) Mintalah ibu untuk BAK jika kandung kencingnya penuh.
Jika tidak bisa lakukan kateterisasi dengan teknik aseptic (harus sangat
hati-hati memasang kateter karena uretra biasanya mudah terlika pada partus
lama / macet gunakan kateter karet)
4) Baringkan ibu dengan posisi litotomi.
5) Dengan
teknik aseptic lakukan periksa dalam untuk mengukur pembukaan serviks dan menilai ketuban sudah pecah / belum
bila belum pecah harus dipecah. Sebelum mangkok di pasang pastikan servik sudah
membuka penuhdan penurunan bayi tidak lebih dari 2/5.
6) Pilih
mangkok penyedot paling besar yang sesuai dengan ukuran. Tempatkan mangkok dengan hati-hati di atas kepala janin.
Pastikan bahwa mangkok tidak di atas sutura atau fontanel.
7) Periksa
pemasangan mangkok penyedot untuk memastikan bahwa tidak ada bagian servik / dinding vagina yang terjepit
diantara mangkok dan kepala bayi.
8) Mulailah menghisap sesuai dengan petunjuk pengunaan
alat caranya bisa berbeda-beda tergantung jenis vakum (penghisap tangan
listrik, mangkuk logam / plastik). Naikkan tekanan dengan perlahan lalu
pastikan mangkok sudah mantap di kepala bayi sebelum mulai menarik (hal ini dilakukan
dengan menaikkan 200 mmhg dan kemudian dilakukan sedikit tarikan untuk memastikan
bahwa keadaan hampa tercipta).
9) Periksa
kembali apakah dinding vagina dan servik bebas dari mangkok penghisap.
10) Pada his berikut naikkan hisapan lebih lanjut
(sesuai dengan instruksi pabrik pembuat alat). Jangan pernah melebihi
tekanan maksimum 600 mmHg.
11) Lakukan
tarikan pelan tapi mantap, jaga tarikan pada sudut 90 derajat dari mangkok penghisap.
12) Bila pada dua
kali tarikan mangkok lepas atau bayi belum lahir setelah 30 menit atau 3 kali tarikan tidak terjadi penurunan
kepala, segera rujuk.
13) Mintalah ibu
untuk meneran bila ada his seperti pada persalinan normal (jaga peganggan tangkai penarik tetap lurus pertahankan
tarikan.)
14) Periksa DJJ diantara kontraksi.
15) Bila his berhenti, bidan harus menghentikan
tarikan.
16) Jelaskan
dengan hati-hati dan ramah kepada ibu apa yang di lakukan, usahakan agar ia tenang dan bernafas dengan normal
dan membantu dengan meneran bila ada his.
17) Bila kepala
sudah turun di perineum lakukan tarikan kearah horizontal lalu keatas.
18) Lakukan episiotomi bila dasar panggul sudah sudah
sangat terengang.
19) Bila
kepala sudah lahir pelan-pelan turunkan tekanan vakum ekstraktor, lalu lanjutkan dengan pertolongan persalinan seperti
biasa.
20) Segera
setelah bayi lahir, lakukan perawatan segera pada bayi baru lahir, mulai resusitasi bayi jika di perlukan.
·
Hasil:
1. Penurunan kesakitan / kematian ibu / bayi akibat
persalinan lama. Ibu mendapatkan penanganan darurat obstetric yang cepat dan
tepat.
2. Ekstraksi vakum dapat dilakukan dengan aman.
PWS KIA
| REKAP LAPORAN PWS KIA | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| PUSKESMAS : | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| BULAN : | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| TAHUN : | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| KABUPATEN/ KOTA : | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| NO | DESA | SASARAN | K1 | K4 | DETEKSI RESIKO TINGGI | NEONATUS | PRSALINAN OLEH TEN. KES | KET | |||||||||||||||||||||||||||||
| BUMIL | BULIN | BAYI | BUFAS | BLN LALU | BLN INI | KUMULATIF | R | BLN LALU | BLN INI | KUMULATIF | R | OLEH TENAGA KESEHATAN | OLEH MASYARAKAT | BLN LALU | BLN INI | KUMULATIF | R | BLN LALU | BLN INI | KUMULATIF | R | ||||||||||||||||
| ABS | % | ABS | % | BLN LALU | BLN INI | KUMULATIF | R | BLN LALU | BLN INI | KUMULATIF | R | ABS | % | ABS | % | ||||||||||||||||||||||
| ABS | % | ABS | % | ||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | |
kohor ibu
| DESA : | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| PUSKESMAS : | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| KECAMATAN : | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| KABUPATEN/ KOTA : | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| PROPINSI : | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| NO. URUT | NO. INDEX | NAMA | ALAMAT RT/ RW | UMUR | HAMIL KE | JARAK KEHAMILAN | BB T.III <45 KG | TB <145 KG | HB < 8 gr% | TENSI >160/95 mmhg | PENDETEKSI FAK. RISK | KUNJUNGAN IBU | PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH | KELAHIRAN | IBU MENYUSUI | KET | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| IBU | SUAMI | IBU | KEHAMILAN | 1 | 2→4 | >5 | <2 TH | >2TH | K | NK | J | F | M | A | M | J | J | A | S | O | N | D | J | F | M | A | M | J | J | A | S | O | N | D | TK | LM | LH | BUFAS I | BUFAS II | BUFAS III | |||||||||||||
| <20 | 20-35 | >35 | 0-12 Mgg | 13-24 | 24 | <2500 | >2500 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 |
Langganan:
Postingan (Atom)
